Saturday, May 12, 2018

Pengaruh Blockchain Terhadap Kreativitas dan Seni

Acara Simposium yang digelar oleh Creative Tech Week Kamis lalu (10/05/18) berjudul “CryptoCreative” bertempat di New York, mengambil tema “Blockchain’s Impact on Creativity and The Arts”. Secara khusus, acara tersebut memang untuk mengeksplorasi pengaruh blockchain terhadap kreativitas dan seni.
Acara yang berlangsung dari pukul 2 siang hingga 9 malam itu telah mempertemukan baik para pengusaha, pengembang, para seniman, kurator, maupun pihak lain yang telah lebih dulu banyak mempelajari pengaruh blockchain terhadap kreativitas dan seni.
event-cryptocreative
Event CryptoCreative di New York (Gambar: @Cryptograffiti)
Di event tersebut, terbagi menjadi beberapa panel, mulai dengan pembahasan mendasar dan pengenalan tentang blockchain, token, Dapps, dan smart contract, Seni, media dan blockchain, hingga panel khusus tentang penerapan blockchain untuk para musisi dan artis.

Sejumlah artis yang hadir di acara tersebut seperti Casey Pearl, Tatiana Moroz, Jonathan Mann, DJ Pepe, Scarab X, hingga juga pihak dari SigularDTV. Sedangkan dipanel untuk dunia seni, hadir sejumlah nama seperti ArtProject Decentralized, John Crain, Pixura, Theo Goodman, Jeff Zirlin dari Rare Pepe Foundation, Jason Rosenstein dari Axie Infinity, Archetype, dan juga Yiying Lu dari Designer in Tech.

Bitcoin, Blockchain dan Seni

Bitcoin, blockchain dan dunia seni memang telah menjadi bagian yang telah melekat satu sama lainnya. Interaksi itu dapat dilihat dari banyaknya pihak yang mulai ikut berpartisipasi di dalamnya. Baik dari para seniman dari kalangan pencipta dan penikmat musik, seni lukis, penulis buku, hingga kalangan enterpreneur dan pebisnis di segmen yang sama.

Secara lebih khusus, dunia kripto telah menjadi membuka segmentasi tersendiri di dalam dunia seni. Para seniman yang telah banyak berkecimpung di dunia bitcoin dan blockchain, mempunyai metodenya sendiri dalam menterjemahkannya menjadi sebuah karya.
Ulasan menarik yang dituliskan di Bloomberg, Kamis lalu misalnya, cukup apik dalam menggambarkan bagaimana para seniman kripto mencari berbagai macam ide untuk karya-karyanya. Sebut saja seperti Michael Jacson pemilik Mangrove Capital yang juga pernah menjabat sebagai COO Skype, telah membuat sebuah karya berjudul “Yellow Lambo”. Michael bahkan telah menghabiskan dana sebesar USD 400.000 atau kurang lebih senilai 5,6 milyar rupiah.
Michael, menghabiskan dana tersebut untuk membeli lampu neon dengan lampu berwarna kuning sepanjang 10 kaki. Lampu panjang tersebut kemudian disusun sedemikan rupa membentuk 42 huruf kuning yang membentuk sebuah address smart contract milik platformnya.
Artist @cryptograffiti threw shade at Jamie Dimon with a piece entitled "Terrible Store of Value." It sold for $33,000 at auction this year ➡️ https://bloom.bg/2rykOCB 
Lain lagi dengan seniman di Cryptograffiti, mendapat ide baru lagi saat menanggapi komentar Jamie Dimon, JPMorgan. Saat itu, Dimon memberikan komentar yang menyebut kripto dengan “Terrible store of value” (penyimpan nilai yang mengerikan).
Terrible store of value
“Terrible store of value”, karya Cryptograffiti (Gambar: cryptograffiti.com)
Seniman di Cryptograffiti lantas menjawabnya dengan karya yang sama berjudul “Terrible store of value”, dengan foto Jamie Dimon di dalam karyanya. Cryptograffiti menilai sosok Jamie Dimon itu mencerminkan kepercayaan publik terhadap institusi perbankan tradisional yang mulai retak di dalam karyanya.

Karya belatar foto Jamie Dimon itu, bahkan dilelang dengan harga USD 33.000, atau senilai 462,8 juta rupiah, sungguh fantastis. Kabarnya, karya cryptograffiti tersebut bakal menjadi salah satu dari banyak karya lainnya yang bakal dilelang seni untuk kegiatan amal, bertempat di New York, tanggal 12 Mei esok.
Banyaknya keterlibatan para seniman dalam dunia bitcoin dan cryptocurrency secara umum ini tidak terlepas juga karena perkembangan teknologi. Christiane Paul, asisten kurator di Whitney Museum of American Art yang juga seorang direktur di Sheila C. Johnson Design Center, menilai bahwa blockchain mempunyai banyak potensi besar. Paul mengatakan bahwa “Seniman akan selalu terlibat dengan teknologi baru. Sangat penting bagi seniman untuk menangkap momen-momen tertentu sebagai bagian dalam evolusi budaya dan teknologi,” jelasnya.

Selain itu, ada juga karya yang mungkin akan dinilai cukup ekstrim. Salah seorang seniman bernama Kevin Abosch, membayangkan dirinya sebagai sebuah koin kripto, lantas mewujudkan dalam sebuah proyek kripto bernama IAMA Coin. Kevin lantas membuat sebuah karya berupa tulisan address smart contract proyeknya menggunakan sebuah stempel karet dengan tinta dari darahnya sendiri.
Inisiatif tersebut dilakukan, karena dalam proyeknya, Kevin membayangkan dirinya sendiri sebagai sebuah token kripto. Jadi Kevin merepresentasikan darahnya sendiri tersebut di dalam karyanya. Kevin membuat 100 jenis karya yang sama. Asumsinya di 100 karya fisiknya itu, dapat merepresentasikan 10 juta token kripto di proyeknya.

Sementara di seniman lain, juga banyak mendapatkan ide-ide dunia kripto di dalam karyanya. Misalnya saja di crptoart.com, yang menjual karyanya dalam beberapa edisi dengan jumlah yang terbatas. Belum lagi seperti LynxArtCollection dengan beberapa karyanya yang dicetak di atas plat aluminium.

Friday, May 11, 2018

Bitcoin Diprediksi Tembus 64.000 Dollar AS pada 2019 Mendatang




Analis memprediksi, pertumbuhan aktivitas penambangan bitcoin dapat mendorong harga cryptocurrency hingga level 64.000 dollar AS. 

Bitcoin dihasilkan dari sebuah proses yang disebut dengan penambangan atau 'mining'. Melalui proses tersebut, komputer akan menyelesaikan sebuah permasalahan matematika rumit, dan menerima imbalan berupa cryptocurrency. 

Sementara itu, daya yang digunakan untuk proses perumusan matematis disebut dengan 'hash power', diprediksi akan tumbuh 350 persen pada tahun 2019 mendatang. 

"Kami percaya, pertumbuhan hash power saat ini dapat mendorong harga bitcoin hingga 36.000 dollar AS pada akhir 2019, dengan estimasi dari 20.000 dollar AS hingga 64.000 dollar AS," ujar Head of Data Scince Reserch Fudstrat Sam Doctor, dikutip melalui CNBC Jumat (11/5/2018).

 Pada Kamis (10/5/2018), Bitcoin diperdagangkan pada level 9.300 dollar AS. Sementara tahun lalu, cryptocurrency mengalami lonjakan dr 1000 dollar AS menjadi 19.000 dollar AS. Perhatian yang muncul terkait ketidakjelasan regulasi dalam cryptocurrency telah membuat nilai mata uang ini anjlok tahun ini. 

Doctor mengatakan, nilai ekonomi dari proses mining dalam bitcoin menjadi salah satu hal yang kembali meningkatkan harga cryptocurrency belakangan ini. 

Menurutnya, para penambang bitcoin atau bitcoin miners memiliki kecenderungan untuk menahan bitcoin ketika harga anjlok, dan akan kembali menjual ketika harga mulai merangkak naik untuk mendapatkan untung. 

"Faktor utama yang mendukung penjualan adalah penambangan bitcoin, kemudian yang lain adalah transaksi antar-investor," ujar Doctor.

 Sebagai informasi, kegiatan 'mining' bergantung pada beberapa faktor seperti listrik, peralatan untuk 'cooling', dan perangkat keras yang disebut dengan rigs.



sumber:
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/11/090800226/bitcoin-diprediksi-tembus-64.000-dollar-as-pada-2019-mendatang

Seniman Berbakat Buat Whitepaper Bitcoin Di Atas Plat Aluminium


Pengguna bitcoin di seluruh dunia, terdiri dari berbagai macam karakter. Mulai dari kalangan IT dan developer, pengguna biasa, spekulan, pecinta teknologi, dari kaum libertarian, artis, penikmat seni, kalangan pengusaha, dan masih banyak lagi yang lain.
Di dalam kaitannya dengan dunia seni dan budaya, bitcoin juga telah banyak mempengaruhi juga.  Bisa dikatakan, bahwa bitcoin telah menciptakan budayanya sendiri di kalangan komunitasnya. Sudah cukup banyak karya seni yang telah bermunculan. Mulai dari karya lagu, seni lukis, mode pakaian, hingga dunia kesusastraan yang dimulai dengan adanya whitepaper bitcoin sebagai salah satu pencetusnya.

Whitepaper Bitcoin ini, menjadi sebuah karya kesusastraan juga yang jika kita melihatnya, menjadi sebuah pelopor sebuah proyek berbasis kripto. Jika dalam sebuah proyek yang menjadi bagian sejarah panjang perjalanan bitcoin, tidak terlepas juga dari teknologi pembayaran elektronik. Sejauh itu, proposal yang dilampirkan, masih belum bersifat formal. Namun whitepaper bitcoin, muncul dengan karakter yang sedikit berbeda, dan menjadi semi formal. Ujungnya, dari keberangkatan whitepaper bitcoin itu kemudian diturunkan ke hampir seluruh proyek altcoin lain yang serupa.
Terkait dengan whitepaper bitcoin itu, ada salah satu seniman berbakat yang membuat whitepaper bitcoin di atas plat aluminium. Seniman berbakat tersebut menggunakan nama frankreddit5. Beberapa jam yang lalu, Frank memposting hasil karyanya tersebut di forum bitcoin Reddit.

Hasilnya, cukup fantastis, kita dapat melihat bagaimana kejelian Frank saat mengukir whitepaper bitcoin di atas plat aluminium tersebut. Tidak hanya bitcoin, Frank juga membuat beberapa karya lainnya, seperti Ethereum, Dash, Monero, Lightning Network Bitcoin, FunFair, maupun lukisan lain yang sama di ukir di atas plat aluminium.
Frank lantas menjual hasil-hasil karyanya yang sama dicetak di atas plat aluminium tersebut dengan harga yang sama. Harga untuk karya Whitepaper Bitcoin di atas plat Aluminium itu misalnya, dibandrol USD 899,99 atau kurang lebih 12,6 juta rupiah di kurs sekarang. Dan tentu saja, bisa dibeli dengan menggunakan bitcoin, ataupun altcoin lain seperti litecoin, dash, maupun ethereum.

Kebanyakan di tiap-tiap karyanya itu, Frank hanya membuat beberapa saja yang sama, kurang lebih hingga 10-11 unit saja. Wajar saja, karena karya tersebut dicetak di aluminium, dan kemudian dilanjutkan dengan melapisi lapisan pelindung yang mengkilap. Paling tidak, hal itu juga memberikan tingkat kerumitan tersendiri untuk bisa memberikan hasil yang maksimal, dan menjaga dari karat. Di situsnya, Lynxartcollection.com, setiap karya itu dijual lengkap dengan frame kayu, sehingga pembeli bisa dengan mudah untuk meletakkannya di dinding.
Lynxartcollection didirikan oleh Frank dan Nicole sejak tahun 2012. Sejak itu, hasil karyanya juga telah jadi kian viral. Tidak hanya itu, LynxArtCollection juga telah banyak menjalin kemitraan dari berbagai vendor. Mulai dari Art.com, Space.com, Discovery Channel, Touch of Modern, dan masih banyak lainnya.

Kena Sangsi, Iran Gunakan Bitcoin


Donald Trump menarik diri dari kesepakatan tahun 2015 tentang program nuklir di Teheran hari Kamis lalu. Penarikan diri atas perjanjian itu juga ditindaklanjuti dengan sangsi ekonomi untuk Iran. Menyiasati sangsi itu, kabarnya Iran banyak menggunakan cryptocurrency seperti bitcoin.

Hal itu terkesan sudah tidak heran lagi, mengingat Iran sendiri sempat mengumumkan rencana untuk menerbitkan mata uang kripto sendiri sejak bulan Pebruari 2018 lalu. Langkah yang coba disusun oleh Iran, banyak melihat seperti yang dilakukan oleh negara Venezuela yang telah menerbitkan Petro.
Upaya dan langkah yang mungkin terkesan cukup spekulatif ini kabarnya berangkat sejak bulan Oktober 2017. Ketika itu, Wakil Menteri Teknologi dan Informasi Iran, Amir Hossein Davee mengatakan, “Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi telah melakukan sejumlah penelitian sebagai bagian dari upaya untuk mempersiapkan infrastruktur dalam menggunakan Bitcoin di dalam negeri. Kami sebagai pusat yang berkaitan dengan urusan perkembangan teknologi negara Iran, telah sangat serius dalam mempersiapkan infrastruktur untuk membuat mata uang baru,” tegasnya.
Terkait dengan sangsi itu, tepat sehari setelah Presiden Amerika, Donald Trump mengumumkan menarik diri dari perjanjian nuklir yang telah ditandatangani, kabarnya Iran telah membeli cryptocurrency sebesar USD 2,5 milyar,

Apa yang dituliskan di financemagnates.com itu, mendapat sumber dari salah satu surat kabar harian bernama Financial Tribune. Di harian itu dituliskan bahwa Mohammad Reza Pourebrahimi selaku ketua Komisi Ekonomi di Parlemen Iran memberikan komentarnya. Ketua komisi ekonomi Iran itu mengatakan, “Terlepas dari kenyataan bahwa sebagian kecil penduduk negara kita adalah pengguna mata uang kripto, namun setidaknya telah lebih dari USD 2,5 milyar yang sudah keluar dari negara ini untuk membeli kripto, dengan harapan bisa berspekulasi dan mendapat keuntungan secara makro.”
Sementara itu, dari yang telah dituliskan Bloomberg beberapa jam lalu, juga menuliskan hal yang sama. Azari Jahromi, salah menteri muda Iran pada bulan Pebruari lalu sempat membuat pernyataan di akun twitternya. Ia menyatakan bahwa pada bulan April akan ada dikembangkan sendiri mata uang kripto Iran.
در جلسه‌ای که با هیئت مدیره پست بانک در خصوص ارزهای دیجیتال مبتنی بر زنجیره بلوکی داشتم، مقرر شد این بانک اقدامات لازم برای پیاده سازی آزمایشی اولین ارز دیجیتالی کشور را با استفاده از ظرفیت نخبگان کشور به عمل آورد. مدل آزمایشی برای بررسی و تایید به نظام بانکی کشور ارائه خواهد شد.
Apa yang dialami oleh Iran, cukup sama persis seperti yang dialami Venezuela maupun Korea Utara, ketika menggunakan cryptocurrency sebagai alternatif menangkis sangsi ekonomi dari Amerika. 

Thursday, May 10, 2018

Kepala OJK Korea Sebut Ada Aspek Positif dari Mata Uang Virtual



Gubernur OJK Korea Selatan (FSS) yang baru diangkat menyebutkan dirinya melihat ada sebagian aspek positif dari mata uang virtual, yang disampaikan saat konferensi pers (6/5).
Sang gubernur juga menyebutkan FSS akan membahas masalah regulasi pada sektor mata uang virtual dengan berkolaborasi badan regulator lain, demikian diberitakan The Korea Times yang dikutip Cointelegraph.
Yoon Suk-heun yang resmi masuk kantor mulai 8 Mei, mengatakan bahwa regulasi yang lebih baik akan menghasilkan sistem keuangan aman yang menjadikan produk terkait mata uang virtual lebih bisa diakses.

BMW Bakal Mulai Gunakan Blockchain Untuk Mengukur Jarak Tempuh

Sebuah perusahaan otomotif besar yang berbasis di Munich – Jerman, BMW bakal mulai gunakan blockchain dengan menggandeng kemitraan beberapa startup berbasis blockchain. Teknologi blockchain itu digunakan untuk BMW untuk dapat melacak secara valid jarak tempuh mobilnya.



Dikabarkan dari Coindesk, bahwa BMW Group UK telah membentuk BMW Innovation Lab sebagai salah satu bagian perusahaan BMW untuk pengembangan dan inovasi di bulan Pebruari tahun ini. Sejauh ini telah menggandeng kemitraan dengan lima startup blockchain.
Mike Dennett, CEO BMW Group Financial Services mengatakan, “Industri otomotif akan mengalami banyak perubahan dalam 10 tahun mendatang, dibandingkan dengan apa yang telah terjadi 20 tahun terakhir. Kami harus bertindak sekarang dan menerapkannya di kendaraan kami agar bisa memastikan bahwa kami telah memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan, baik untuk masa sekarang dan dimasa depan”.
Kelima startup berbasis blockchain yang telah dipilih itu adalah Proximo, Ocasta, Overfit Technologies, easyCar Club, dan juga DOVU. Sedangkan untuk DOVU, segmentasi platformnya adalah untuk sektor otomotif. DOVU, memungkinkan pengguna mobil untuk bisa berbagi data dan mendapatkan reward sebagai salah satu fungsi untuk menciptakan ekonominya sendiri. Beberapa bulan lalu, Dovu berhasil memperoleh pendanaan hingga USD 6 juta melalui Initial Coin Offerings (ICO).


Gagasan untuk menggunakan blockchain itu dilandasi dengan pemikiran tentang sejauh mana sistem di dalam mobil BMW dapat memahami berbagai aktivitas yang telah dilakukan, sehingga dapat dilihat melalui kendaraan itu dan memberikan implikasi kepada penggunanya.
Terkait dengan sistem pelacakan jarak tempuh, Alex Morris dari Doku menerangkan bahwa menurut pihak BMW, sistem pelacakan jarak tempuh otomatis pada mobil sejauh ini tidak dapat diandalkan. Hal itu karena tidak dapat memberikan informasi yang benar-benar diinginkan oleh perusahaan.
“Yang kami lakukan pada dasarnya adalah untuk mencoba membangun ekonomi melingkar di platform DOVU. Pengemudi dapat memperoleh token, dan token itu dapat digunakan untuk berbagai layanan. Misalnya, mengganti ban atau servis lain yang serupa di mitra-mitra yang telah ada di ekosistem Dovu. BMW yang juga sebagai salah satu mitra, dapat mendefinisikan kategorisasi khusus untuk sistem reward di dalam smart contract. Selama parameter itu telah ditentukan di smartcontract, maka mereka bisa mendapatkan token,” terang Alex.
Kemitraan antara BMW dan juga DOVU, akan menggunakan parameter khusus dalam pemberian reward pengemudi nantinya dengan jarak tempuh. Sehingga, keseluruhan data jarak tempuh secara tersebut juga akan mampu disimpan melalui blockchain DOVU. Kabarnya, DOVU ini juga tengah mulai memproyeksikan beberapa aspek lain untuk melengkapi aspek data di dalam pratformnya. Misalnya tentang data transit publik di area metropolitan beberapa kota dan beberapa hal lain.

sumber: https://edukasibitcoin.com/bmw-bakal-mulai-gunakan-blockchain-untuk-mengukur-jarak-tempuh/

Tuesday, May 8, 2018

Indonesia Beralih Ke Teknologi Blockchain



 Indonesia memiliki populasi lebih dari 250 juta warga, mengelola data dari 250 juta orang melalui metode traditional paper-based nampaknya tidak akan bertahan lama di pasar Asia Tenggara yang sedang berkembang ini.

Untuk itu dengan berkembangnya teknologi, Indonesia pun mulai menerapkan teknologi Blockchain yang digadang-gadang akan meningkatkan perekonomian bahkan menjadikan pemerintahan lebih baik dari sebelumnya. Berikut penjelasannya:
Biaya lebih rendah dan Keamanan Tinggi
Teknologi Blockchain memiliki potensi untuk mengenkripsi dan berbagi dataset melalui distributed ledgers daripada central data center.
Dengan demikian, beberapa dokumen seperti kartu ID, catatan medis, pendaftaran pemungutan suara, dan lisensi mengemudi dapat dijamin pada blockchain yang dapat menghasilkan pendekatan yang lebih terorganisir dan hemat biaya untuk menyimpan dan menggunakan data yang tidak dapat diubah.
Dengan demikian, pejabat pemerintah mencari Blockchain sebagai alternatif yang lebih baik untuk sistem KTP Elektronik Indonesia saat ini menjadi program kartu identitas wajib negara.
Masyarakat Indonesia harus membawa berbagai kartu yang dikeluarkan pemerintah, termasuk e-KTP, surat izin mengemudi, kartu suara, dan NPWP (id pajak). Jika salah satu kehilangan salah satu kartu yang dikeluarkan pemerintah ini, proses untuk mendapatkannya kembali sangat sulit. Namun, dengan penerapan distributed ledger technology, pemerintah dapat membentuk penyimpanan digital pada semua kartu untuk menghilangkan kerumitan membawa kartu-kartu fisik ini.
Aplikasi Blockchain untuk Pengajuan Pajak
Salah satu contohnya perusahaan teknologi Indonesia yaitu Online Pajak menawarkan aplikasi berbasis Blockchain yang memungkinkan masyarakat Indonesia untuk membagikan data pajak mereka dengan badan pemerintah yang diperlukan, misalnya kantor bank sentral dan treasury offices. Teknologi Blockchain tersebut dapat menjadi sistem yang lebih transparan dan mengurangi sistem birokrasi berbasis kertas.
Charles Guinot, salah satu pendiri Online Pajak, mengatakan
“Hari ini di Indonesia, tidak ditemukan bukti bahwa ada yang harus Anda bayar.”
Perusahaan solusi blockchain Australia Horizon State sedang mempertimbangkan memperkenalkan aplikasi telepon blockchain-powered untuk memungkinkan warga untuk memilih pada banyak kebijakan pemerintah di pulau Sumatera, seperti dilansir Reuters.
Tidak hanya itu, menurut Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawat, untuk menyebarkan subsidi domestik kepada mereka yang membutuhkan, Blockchain dapat berdampak sangat besar di sektor pertanian negara. Indrawat mengatakan kepada Reuters:
“Kami ingin menggunakan platform teknologi untuk dapat mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan.”

sumber: https://www.duniafintech.com/indonesia-teknologi-blockchain/