Tuesday, October 9, 2018

Volume Perdagangan Bitcoin Di Venezuela Capai Rekor Tertinggi

Perdagangan bitcoin di Venezuela mencapai USD 7 Juta.
Volume Perdagangan Bitcoin
Volume perdagangan Bitcoin di Venezuela kembali mencapai rekor tertinggi semenjak sabtu pekan terakhir. Berdasarkan statistik data dari Coindance di Localbitcoins, volume transaksi bitcoin mencapai 1073 BTC dalam satu minggu.
Localbitcoin ini adalah salah satu bursa kripto P2P yang juga banyak digemari untuk digunakan warga Venezuela. Jumlah pengguna yang berasal dari negara Venezuela di LocalBitcoin jauh lebih melebihi dari pengguna negara lain di dunia.
Nilai BTC tersebut berkisar sekitar USD 7,1 juta atau kurang lebih 108 milyar rupiah di kurs saat ini. Volume perdagangan bitcoin tertinggi sebelumnya di bulan September yang mencapai 898 BTC atau sekitar USD 5,9 juta.
Tingginya volume perdagangan bitcoin di Venezuela tersebut karena warga mulai banyak beralih menggunakan cryptocurrrency untuk bertransaksi. Sekaligus menghindari kondisi krisis ekonomi yang melanda.
Volume perdagangan bitcoin
Volume perdagangan bitcoin di Venezuela melalui bursa P2P Localbitcoin. (Gambar: Coindance

Monday, October 1, 2018

Joseph Muscat: Cryptocurrency Adalah Mata Uang Masa Depan

Perdana Menteri Malta, Joseph Muscat mengatakan bahwa Cryptocurrency adalah mata uang masa depan yang tak terelakkan. Pernyataan tersebut dilontarkan saat menyampaikan pidatonya di Majelis Umum PBB.
Saat memberikan pidatonya Majelis Umum PBB pekan lalu (27/9/18), Perdana Menteri Malta Joseph Muscat mengatakan teknologi blockchain akan membuat cryptocurrency mata uang masa depan.

Pada kesempatan pidatonya di sesi ke 73 Majelis Umum PBB yang digelar di New York City saat itu, Joseph Muscat mengatakan:
“Saya sangat percaya teknologi akan merevolusi dan memperbaiki sistem. Itu mengapa di Malta, kami membuat diri kami sebagai Kepulauan Blockchain. Menjadi yurisdiksi pertama yang meregulasikan teknologi baru yang sebelumnya masih hampa hukum”.
Joseph Muscat adalah politisi Malta yang terpilih menjadi Perdana Menteri Malta sejak tahun 2013 hingga saat ini. Joseph Muscat juga pernah menjabat pimpinan dari Partai Buruh 2008, Oposisi hingga 2013, dan juga pernah menjabat Anggota Parlemen Eropa dari tahun 2004-2008.
Sebagai seorang politisi yang telah banyak makan garam, Joseph Muscat ternyata memang cukup antusias dengan teknologi blockchain yang diusung dari cryptocurrency. Sementara bargaining Malta sejauh ini memang mendapat predikat negara yang ramah dengan cryptocurrency.
“Blockhain membuat masa depan mata uang kripto tidak terelakkan. Lebih transparan dalam membantu dan menyaring sektor bisnis baik dan yang buruk.”
Menurut Joseph, teknologi blockchain masih punya potensi melakukan lebih banyak hal lagi. Josoph Muscat menerangkan bahwa pemerintah Malta sendiri cukup tertarik dengan potensi dan manfaat teknologi blockchain.
Teknologi ini dianggap punya kapabilitas menghilangkan peran pihak ketiga. Memberikan pengguna akses penuh dan kebebasan terkait dengan informasi dan bahkan soal mata uang.

Negara Malta sendiri sudah memposisikan dirinya sebagai pendorong perusahaan-perusahaan baru di bidang kripto agar ikut ambil bagian di European Blockchain Partnership. Alasannya, karena di kemitraan tersebut sudah banyak bergabung perusahaan-perusahaan kripto.
Perusahaan-perusahaan tersebut sengaja memindahkan basis kantornya di wilayah yang tidak ribet regulasi hukum. Terlebih untuk soal penggunaan teknologi blockchain untuk kelembagaan pemerintahan maupun sektor korporasi.
Beberapa hari lalu, PBB juga sudah menjalin kemitraan bersama antara UNDP dengan Blockchain Charity Foundation (BCF) yang juga merupakan sebuah yayasan Blockchain di Malta. Kemitraan tersebut terjalin atas inisiatif PBB melalui UNDP untuk dapat membantu negara-negara berkembang.
Masih di bulan September lalu, platform Waves juga mulai melakukan dialog serius tentang teknologi blockchain dengan pemerintah Malta. Sistem ekonomi tampak mulai beralih ke sistem ekonomi digital.
Terkait dengan era transisi ekonomi digital itu, Joseph juga beranggapan ada beberapa masalah yang perlu dihadapi. Masalah tersbesarnya adalah karena masih banyak masyarakat dunia yang masih berpegang pada konsep saat ini.
Tantangan tersebut dianggap Joseph sebagai ketakutan akan munculnya ekonomi baru yang akan membawa kerugian besar. Menurut Joseph Muscat, justru dibalik itu ada keuntungan besar untuk negara-negara yang sudah beradaptasi dengan era digital.
Gejolak perubahan dan adopsi meluas teknologi digital seperti blockchain maupun cryptocurrency tersebut dianggap tidak terelakkan lagi. Maka tidak heran Malta berani memposisikan dirinya sebagai pemerintahan yang lebih akomodatif terhadap perkembangan teknologi.

Inilah Dua Pemicu Bikin Bitcoin Naik Tinggi



 Menurut Tom Lee dari Fundstrat, kestabilan Bitcoin di rentang US$6 ribu merupakan sinyal optimistis dari para investor.
Pada awal 2018, Fundstrat menyoroti bahwa tingkat US$6 ribu akan terus bertahan dalam jangka menengah, sebab harga ini adalah titik breakeven bagi para penambang. Artinya, para penambang yang menggunakan listrik dan peralatan tambang untuk memverifikasi transaksi di jaringan Bitcoin, masih bisa meraih sedikit cuan jika harga Bitcoin tetap di atas US$6 ribu.
Kepada Bloomberg, Lee menjelaskan stabilitas BTC di titik US$6 ribu dan dua pemicu besar yang akan terjadi di akhir tahun bisa mendorong harga BTC melambung tinggi menjelang dua bulan ke depan.
“Bagi kami US$6 ribu adalah harga yang sangat penting disoroti. Pada awal tahun ini, kami menyebut US$6 ribu sebagai titik breakeven bagi penambangan Bitcoin. Dan terbukti, seperti yang kita saksikan, Bitcoin bertahan di rentang ini. Ini adalah kabar yang sangat baik. Saya pikir akan ada beberapa katalis di akhir tahun ini, sehingga walaupun puncaknya semakin rendah, tapi mulai menunjukkan tanda-tanda berbalik,” ujar Lee.
Menurut Lee, dua pemicu besar yang akan menyebabkan peningkatan harga BTC pada akhir tahun adalah infrastruktur bursa kripto yang semakin kuat serta rasa fear of missing out atau FOMO (rasa takut tertinggal) dari para investor institusi.
Selama beberapa bulan terakhir, Bakkt, bursa kripto besutan ICE, Starbucks dan Microsoft, telah membangun platform pertama yang fokus terhadap regulasi dengan sasaran utama beroperasi sebagai kustodian dan broker terpercaya bagi investor skala besar.
Lee menambahkan, pada saatnya nanti, dengan masuknya bank investasi besar dan produk-produk terpercaya yang ditawarkan oleh Bakkt, institusi-institusi bisa masuk ke pasar kripto dengan lancar.
“Menurut saya ada beberapa faktor. Pertama, ada bursa baru bernama ICE Bakkt yang akan diluncurkan. Bursa ini akan menjadi bursa teregulasi yang pertama. Ada banyak hal yang dikerjakan oleh bank investasi besar untuk membuat produk yang cocok dengan Bakkt. Kedua, institusi-institusi ini sedang menunggu waktu yang tepat sebelum masuk lebih dalam,” jelas Lee.
Pada awal 2018, Lee menekankan kembali target harga US$25 ribu per BTC pada akhir tahun 2018 mungkin tercapai. Beberapa pihak justru menilai kemungkinannya sangat kecil. Kendati demikian, mengingat kestabilan BTC di nilai US$6 ribu sejak akhir Juli, masih ada kemungkinan aset kripto tersebut menunjukkan kekuatan dan momentum di bulan November dan Desember, periode di mana pasar kripto secara sejarah cenderung mencetak kenaikan harga yang besar.

Saturday, September 29, 2018

Samourai Wallet Hapuskan USD, Selamat Tinggal Fiat!

Salah satu vendor wallet bitcoin, Samourai Wallet, membuat keputusan tegas dengan menghilangkan konvesi satuan bitcoin dengan USD. Umumnya di berbagai platform baik wallet bitcoin, exchange, dan lain-lain memang masih menggunakan mata uang Fiat seperti USD, atau yang lain.

Platform wallet bitcoin di versi mobile terkemuka Samourai Wallet, memutuskan untuk menghapuskan konversi mata uang bitcoin dengan USD. Langkah tersebut diambil untuk segera menghilangkan ketergantungan dengan mata uang Fiat.


Sebaliknya, menggantinya hanya dengan menggunakan Satoshi atau “SAT” saja sebagai satuan bitcoin selama ini. Dengan kapabilitas bitcoin yang bisa digunakan sebagai sebuah media pertukaran nilai, atau mata uang, maka ketergantungan pada mata uang Fiat tersebut dirasa cukup mengganggu.

Samourai Wallet Ucapkan Selamat Tinggal Fiat

Di dalam rilis post yang dimuat di blog Samourai Wallet kemarin (28/9/18), pihak pengembang memang sengaja dengan menuliskan “Farewell Fiat”. Frase tersebut artinya adalah “selamat tinggal Fiat” yang ditandai dengan menghapus konversi USD pada rilis update terbaru, versi 0.98.87 di wallet Samourai.
“Kami percaya bahwa merupakan hal yang fundamental untuk pengguna kami saat ini dan masa depan, agar memahami ketika mereka bertransaksi dalam jaringan Bitcoin, ketika mereka berpartisipasi dalam ekonomi Bitcoin, mereka bertransaksi dengan unit asli dengan jaringan itu, BTC, tidak ada yang lain.”

Selama ini, cukup banyak varian platform di ekosistem bitcoin yang memang masih banyak menggunakan konversi bitcoin dengan mata uang Fiat. Mulai dari berbagai varian wallet bitcoin dalam berbagai macam bentuk, bursa-bursa bitcoin, dan banyak yang lain.
Kecenderungan tersebut mulai ditangkap oleh pihak pengembang Samourai wallet saat pertama kali meluncurkan platformnya di tahun 2015 lalu.
Meski konversi mata uang antara Bitcoin dengan Fiat dilakukan hanya untuk memperoleh gambaran mudah untuk nilai bitcoin jika dilihat dari Fiat, namun ada kecenderungan yang dipandang perlu untuk segera dihilangkan.
Kecenderungan tersebut membuat pengguna Bitcoin tidak siap melepas ketergantungan akan mata uang Fiat.
Di dalam versi wallet Samourai sebelumnya, konversi mata uang Fiat tersebut berada dalam fitur “street price”. Dan akhirnya dihapus pada rilis update terbaru di versi 0.98.87. Artinya, para pengguna wallet Samourai saat ini benar-benar harus terbiasa dengan satuan terkecil bitcoin “SAT”. Tidak dengan satuan lain.
Nama “Satoshi Nakamoto” digunakan untuk menyebut satuan terkecil bitcoin dengan sebutan “Satoshi”, atau yang disingkat dengan “SAT”. Pada satuan terkecil atau Satoshi ini, berarti 1 SAT akan bernilai 0,00000007 BTC.


Wednesday, September 26, 2018

PBB Eksplorasi Teknologi Blockchain

PBB eksplorasi teknologi blockchain untuk mengatasi krisis sosial secara global, dan membantu negara berkembang. Pihak PBB mengumumkan hal tersebut pada genda Majelis Umum PBB ke 73 yang digelar di New York.



Upaya PBB eksplorasi teknologi blockchain tersebut adalah inisiatif yang dikembangkan sebagai bagian kerja dari United Nations Development Programme (UNDP).
Tujuannya tidak lain untuk mendukung dan membantu negara-negara berkembang dengan peningkatan sumber daya dan taraf hidup warga negara.
Dikabarkan dari The Nexweb, Asisten Sekjen PBB Haolian Xu mengatakan, “Kami percaya bahwa teknologi blockchain merupakan teknologi yang memiliki dampak besar di negara berkembang dalam berbagai cara,” terangnya.
Kabarnya, pihak PBB sendiri telah menjalin kemitraan dengan sebuah yayasan sosial blockchain bernama Blockchain Charity Foundation (BCF).
Terkait kemitraannya dengan BCF, Haolian Xu mengatakan bahwa UNDP cukup senang dengan komitmen kuat BCF untuk bekerjasama dengan UNDP dalam eksplorasi teknologi blockchain. Dengan tujuan untuk menciptakan solusi atas berbagai tantangan pembangunan yang paling sulit dilakukan di Asia dan Pasifik.
BCF ini adalah sebuah yayasan yang diluncurkan oleh Pemerintah Malta dan bekerjasama dengan Binance. Pada peluncuran yayasan yang digelar sekitar bulan Juli lalu itu, pihak Binance sendiri telah berjabat tangan dengan Presiden Malta.
Sementara pada agenda PBB tersebut, BCF juga memperkenalkan platform donasi untuk amal yang bersifat terdesentralisasi. Platform donasi amal itu memungkinkan untuk memberi donasi secara lebih transparan, terlacak dari mana dan kepada siapa dana itu akan digunakan.
Dalam beberapa pekan terakhir, BCF juga membuat alat komunikasi berbasis blockchain yang sepenuhnya off-grid. Alat komunikasi tersebut selain dapat digunakan untuk bertransaksi kripto, juga dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan lebih aman. Sehingga tidak ada kendala meskipun saat terjadi bencana alam.

Tuesday, September 25, 2018

Michael Novogratz Prediksi Harga Bitcoin Capai USD 10.000

Michael Novogratz, salah seorang miliarder bitcoin mengatakan bahwa mustahil jika harga bitcoin tidak mencapai USD 10.000 di penghujung tahun nantinya.


Salah seorang miliarder bitcoin, Michael Novogratz, memprediksi harga bitcoin dapat tembus di USD 10.000 pada akhir tahun. Novogratz banyak berharap agar harga bitcoin segera naik 30% sebelum menjelang akhir tahun.

Pendapatnya tersebut dilontarkan saat diwawancarai di CNBC Fast Money hari Jumat pekan lalu. Bagi miliarder yang telah mendirikan Galaxy Digital, Novogratz mengharapkan ada arus kas masuk lebih besar di pasar kripto.
Arus kas yang dimaksud Novogratz tersebut adalah berasal dari lembaga institusional yang tertarik terlibat dengan pasar kripto. Menurutnya, arus kas besar dari institusional itu diharapkan segera masuk lebih besar jika Bitcoin mampu melintas di harga USD 6.800, USD 8.800, dan USD 10.000 per BTC.
Mendukung pendapatnya tersebut, Novogratz juga memberikan beberapa alasan dibaliknya. Ia menunjuk beberapa pemain besar seperti Goldman Sachs dan juga ICE. Menurut Novogratz, kedua pemain besar itu saat ini sedang mengembangkan infrastruktur yang diperlukan agar lembaga-lembaga atau institusional besar dapat berpartisipasi.
Pada Goldman Sachs misalnya, sedang menggarap proyek untuk aset digital. Sedangkan ICE (Intercontinental Exchange) sudah bekerjasama dengan Bakk untuk meningkatkan likuiditas kripto.
Michael Novogratz mengatakan:
“Ini adalah bull market di lembaga-lembaga yang membangun infrastruktur bagi uang riil investor agar bisa masuk di ranah ini… Menurut saya dalam tiga hingga enam bulan dari sekarang, akan ada pertanda jelas untuk semua ini.”
Novogratz juga menekankan bahwa institusi-institusi besar maupun dana pensiun akan mulai banyak masuk dan berinvestasi.
Dalam sesi wawancara tersebut, Novogratz seakan memberikan garis besar adanya institusi-institusi besar yang telah masuk di pasar bitcoin. Meski menolak memberikan detail institusional besar mana yang telah masuk, namun ia menyebutkan bahwa ada istitusi besar yang cukup berpengaruh sudah berinvestasi di hedge fund bitcoin.
Menggaris bawahi pendapatnya, Novogratz juga menyatakan bahwa pada Q1 dan Q2 di tahun 2019 mendatang akan ada beberapa produk kripto di pasar yang berperan untuk meningkatkan partisipasi dari lembaga atau institusional.
“Menurut saya hal itu akan terjadi. Dan kita akan banyak membicarakan tentang hal tersebut nantinya. Anda tahu, langit adalah batasnya,” tegasnya.

The B Foundation Resmi Berdiri, Tambah Satu Yayasan Bitcoin




The B Foundation resmi didirikan pada 23 September lalu. The B Foundation ini adalah salah satu yayasan bitcoin baru di luar sistem Bitcoin. Wilayah kerjanya lebih spesifik dalam hal penggalangan amal dan komersial.

Pada konferensi Bitcoin bertajuk “Baltic Honeybadger 2018” bertempat di Riga, ibukota Latvia , sekaligus untuk meresmikan The B Foundation. Di event yang berlangsung mulai 22-23 September lalu itu bertambah satu lagi yayasan bitcoin yang bernama The B Foundation.


Beberapa person yang berada di belakang yayasan bitcoin baru The B Foundation tersebut adalah, Jameson Lopp, Elizabeth Stark, Adam Back, Pavol Rusnak, Alena Vranova, Whale Panda, Alex Petrov, Francis Pouliot, dan juga Giacomo Zucco.


Pendiri Satoshi Labs, Alena Vranova yang juga di dalam The B Foundation memberikan keterangan pada event tersebut, bahwa fokus utama yayasan baru itu untuk menggalang sumbangan untuk amal maupun komersial.
Menurut Alena Vranova dalam rilis transkrip B Foundation, menyebut yayasan baru itu akan berkantor pusat di Liechtenstein, sebuah negara yang beribu kota di Vadus, pegunungan Alpen. Alasannya, karena di negara Liechtenstein tersebut cukup memberikan dukungan untuk bitcoin.
Selain itu, struktur B Foundation dibentuk dengan dewan dn tim eksekutif yang terdiri dari direktur, asisten eksekutif dan yang lainnya. Dalam pernyataan tertulisnya itu, Alena menyebut bahwa dewan di B Foundation tidak akan mendapat bayaran.
Tentang pendirian B Foundation itu, Alena menerangkan bagaimana mewujudkan sebuah upaya untuk bisa lebih efektif secara terpusat. Alena melihat bagaimana yayasan Ethereum bekerja dengan departemen pemasaran hingga promosi yang dianggap cukup efektif dalam jangka waktu yang pendek.

Ada Dua Yayasan Bitcoin

Pada Bulan September tahun 2012 lalu, Bitcoin Foundation telah berdiri. Saat ini Direktur Eksekutif di Bitcoin Foundation dipegang oleh Liew Claasen setelah menggantikan Bruce Fenton pada bulan Juli tahun 2016, dua tahun lalu.
Pada saat pendirian lembaga non profit Bitcoin Foundation saat itu, dilakukan atas itikad untuk mengembalikan reputasi bitcoin yang saat itu cukup sering mendapat predikat buruk di mata masyarakat.
Beberapa skandal yang dianggap telah membawa citra buruk untuk Bitcoin seperti transaksi Bitcoin yang terlibat dengan Silk Road. Beberapa hal lain, seperti hacker, dan hal lainnya.

Atas dasar itu, pendirian Bitcoin Foundation adalah gagasan masing-masing individu untuk mengorganisir diri dan membentuk yayasan tersebut. Hal yang perlu dipahami tentang yayasan bitcoin itu, adalah berada di luar sistem bitcoin.
Dengan berdirinya The B Foundation, beberapa hari lalu, artinya saat ini komunitas bitcoin mempunyai dua yayasan yang berbeda.